Tampilkan postingan dengan label apatisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label apatisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 September 2008

Interest politik

Problematika Apatisme Mahasiswa Terhadap Interest Politik

*Fahruddin Fitriya

Kampus merupakan miniatur sebuah negara. Sebuah negara yang di dalamnya terdapat sebuah pemerintahan begitu juga kampus, dimana terdapat organisasi intra kampus (DPM dan BEM) yang disertai organ yang mengurusi urusan kesejahteraan masyarakat (kampus) nya. Terkait dengan pemilu digunakan sebagai ajang pesta demokrasi dalam suatu negara juga dilakukan dalam kampus. Dimana pemilu digunakan sebagai salah satu sarana masyarakat untuk memilih para wakilnya yang akan duduk dalam dewan.

Sebentar lagi Mahasiswa UNNES akan melakukan ritual itu (pemira). Ritual besar yang oleh rakyat sebuah negara demokrasi ditunggu-tunggu. Dalam ritual tersebut masyarakat melakukan proses observasi yang sebelumnya dilakukan kampanye oleh calon-calon yang ada. Proses pemilihan wakilnya yang diharapkan dapat menyalurkan kehendaknya guna tercapai cita-cita yaitu kemashlahatan/kesejahteraan kampus. Sehingga tercipta suasana negara (kampus) yang stabil, demokratis, dan aspiratif serta mengayomi masyarakat dengan melayaninya dengan baik. Tetapi bagaimanakah sebenarnya situasi yang seharusnya terdapat dalam bangsa yang baik?

Dalam negara yang baik seharusnya terdapat interest masyarakat yang tinggi terdapat politik. Di swiss, sebagian besar masyarakat sadar akan kontribusi dirinya dalam sebuah pemerintah. Antusiasme masyarakat swiss terhadap politik ternyata sangat besar, ini di tandai dari proses pemilihan umum yang dijadikan ajang penyaluran apirasi dan saling memahami serta menghargai antara berbagai parpol yang ada. Dan setelah itu masyarakat serentak melakukan kontrol terhadap pemerintahan yang sudah terbentuk. Begitu juga diharapkan dikampus tercinta kita ini, pemira yang akan diselenggarakan diharapkan dapat diikuti dengan antusiasme seluruh mahasiswa dengan kesadaran akan pentingnya partisipasi politik sebagai salah satu wahana penyaluran aspirasi dan kontribusi konkrit dalam perbaikan sebuah kepemerintahan (Kampus).

Mahasiswa dalam kampus selayaknya masyarakat dalam sebuah negara. Masyarakat yang baik seharusnya peduli terhadap kondisi bangsa (kampus) nya terlebih mau untuk melakukan perbaikan. Sebagaimana di ungkapkan oleh Resiva bahwa kesadaran dan perhatian serta partisipasi masyarakat dalam politik dan perubahan sosial akan menjadikan sebuah masyarakat mengalami dinamisasi yang selanjutnya mencapai society stability. Pandangan ini mengajarkan bahwa dengan peran serta masyarakat kampus atau mahasiswa dan perhatiannya dalam proses perbaikan (sosial-poliitik) merupakan bentuk kontribusi nyata dalam perbaikan itu sendiri. Karena itu di harapkan kepada seluruh mahasiswa memanfaatkan secara maksimal pesta demokrasi (pemira) kampus tersebut.

Selanjunya interest politik melahirkan kepedulian politik berkelanjutan, kepedulian politik ditunjukan dengan selalu mencermati perkembangan dinamisasi politik kampus. Pencermatan dilakukan pada saat pemerintahan kampus berjalan, ini berfungsi sebagai guide (pengawasan) atas perealisasian janji-janji yang di ucapkan pada saat kampanye.

Proses pengawasan dapat sebagai oposan dan kritikus aktif. Dalam dunia politik yang buruk biasanya selalu penguasa mencoba mengenyahkan, pada hal oposan merupakan bagian dari proses pembangunan, dengan oposisi yang kuat, rakyat menjadi mantap dan optimis mengenai masa depannya. Karena jika ada kesalahan dari suatu pemerintahan, rakyat memiliki keyakinan pilihan pada pemilu berikutnya. Oposan dapat memberikan kritik untuk meningkatkan pengelolaan negara (kampus). selain oposan rakyat dapat melakukan kritikan-kritikan sistematis dengan pengaspirasian yang berkesinambungan melalui berbagai media, seperti demontrasi, tulisan, audiensi, etc. Dengan begitu akan terjadi dinamisasi dalam pemerintahan atau (kampus). Dengan dinamisasi tersebut di harapkan akan menghiraukan kesehatan pemerintahan dan kesejahteraan kampus dapat tercapi.

Dengan mengetahui pentingnya interest politik mahasiswa dapat turut aktif dalam proses dinamisasi kampus. Dimana saat ini mahasiswa UNNES sangat rendah intrest politiknya, ini terlihat pada pemira tahun lalu, mahasiswa dengan enggan menyalurkan suaranya padahal KPU sudah melakukan upaya sosialisasi secara massif. Padahal hal itu terkait dengan dirinya sebagai mahasiswa, seperti disebutkan diatas kampus merupakan miniatur negara dan tidak beda jauh terdapat permasalahan yang sama, mungkin korupsi. Tidak di penuhinya kebutuhan kesejahteraan mahasiswa dan penyimpangan-penyimpangan lainnya. Permasalahan ini tidak akan selesai dengan ke-acuh-an, sikap masa bodoh mahasiswa.

Maka sudah waktunya mahasiswa UNNES sadar akan eksistensi dirinya sebagai mahasiswa yang tidak hanya ngampus saja dan mendapatkan IP tinggi. Tetapi sebagai intelektual dan penerus bangsa (terlebih bangsa Indonesia saat ini penuh dengan broker yang menjadikan bangsa ini sakit/broken), ia harus melatih diri dengan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan (kampus) dengan semangat perbaikan, penuh kefahaman dan kesadaran.

Penulis Adalah Mahasiswa Hukum

Tinggal Di HongKong

Keluar dari Jeratan Apatime

Rahmat Sutopo*

Kerjakanlah apa yang seharusnya Kalian Kerjakan (petikan pidato Soakarno pada peringatan Sumpah Pemuda 1956). Mahasiswa, kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Sebagai generasi muda yang di harapkan oleh pendahulu kita untuk bisa meneruskan pembangunan bangsa Indonesia menuju masyarakat sejahtera tanpa penindasan dan penjajahan. Salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dan inilah tahapan yang kemudian kita lalui saat ini untuk menuju kepada cita-cita bangsa. Kuliah di kampus negeri adalah dambaan setiap orang. Tapi itu semua akan menjadi kebanggaan semu, kala kita manjadi mahasiswa kita tidak mengerti peran apa yang harus kita lakoni atau kita mainkan. Hidup ibarat memainkan skenario sinetron, ketika sutradara memberikan peran untuk menjadi mahasiswa, tentunya kita akan bermain sesuai peran itu. Sebagai bangsa yang besar tentunya kita tidak bisa begitu saja melupakan sejarah. Sejarah Gerakan Mahasiswa di Indonesia tidak banyak berbeda dengan sejarah Gerakan Mahasiswa pada umumnya dibelahan dunia manapun. Gerakan Mahasiswa yang didominasi oleh para pemuda yang memiliki watak orang muda yaitu menginginkan perubahan. Dan lahirnya Gerakan Mahasiswa itu tidak dengan perencanaan sebelumnya yang matang, melainkan banyak dikarenakan adanya momentum politik di Indonesia. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan struk­tural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya.

Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah bermakna bahwa di dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1. Pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya.

2. Pemihakan pada rakyat.

Gerakan mahasiswa hari ini sedang menghadapi musuh paling menakutkan, bukan liberalisasi, bukan kapitalisasi pendidikan melainkan adalah sikap apatisme yang saat ini melekat pada sebagian besar mahasiswa. Perkembangan paham-paham liberalisme talah membius kesadaran mahasiswa yang seharusnya punya kepedulian terhadap kehidupan masyarakat dan bangsanya. Mahasiswa mulai meninggalkan peranannya dan memilih dunia baru yang lebih bebas tak bertanggung jawab. Gelar agent of change (agen perubahan) sudah luntur tergilas oleh perubahan dan paradigma liberal. Sehingga tugas kita bersama adalah mengembalikan ruh idealisme mahasiswa yang sudah di renggut oleh liberalisme, apatisme maupun hedonisme yang saat ini benar-benar mendarah daging. Mahasiswa hendaknya bisa belajar dari sejarah bangsanya, mahasiswa harus belajar memahami problem-problem masyarakat selain harus sibuk menuntut ilmu di bangku kuliah. Kemudian apakah yang bisa kita persembahkan kepada masyarakat bangsa dan Negara semasa kita menjadi mahasiswa. Hidup akan lebih berarti ketika keberadaan kita memberikan manfaat terhadap orang di sekeliling kita. Mari keluar dari jeratan apatisme, kembalikan kejayaan mahasiswa…!!!

Apa guna punya ilmu tinggi kalau hanya untuk mengibuli,

Apa guna banyak baca buku kalau mulut kau bungkam melulu…

(Syair : Widji Tukul)

*Penulis adalah Mahasiswa

Tinggal Di Venezuela